“Kita adalah bagian dari alam. Maka janganlah saru (red. berlaku tidak layak) sama alam,” jelas Mbah Rono, sapaan akrabnya yang muncul sejak peristiwa bencana Merapi melanda Jogjakarta November 2010. Bencana Merapi bisa merenggut puluhan jiwa ini, berawal dari dihiraukannya perintah untuk mengungsi ke zona aman yang sudah ditentukan oleh pemerintah dalam hal ini Badan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVBMG) yang dipimpin oleh Surono. Padahal perintah tersebut dikeluarkan tanpa rekayasa. Mbah Rono dengan perawakannya yang tenang, mengatakan bahwa instruksi yang ia keluarkan sudah melalui penyaringan dan pertimbangan yang sangat matang. Semua itu ia simpan rapat dalam dirinya, karena ia ingin semua orang tidak panik.
Di sela bedah buku terbitan Galangpress yang berjudul “Membidik Peristiwa Jadi Berita” karya Regina Safri, seorang fotografer dari Antara ini, Mbah Rono yang menjadi pembicara, secara blak-blakan menjelaskan tentang dibalik kebijakannya pada saat menentukan zona aman bencana Merapi. Ia menjelaskan yang tahu berapa jarak aman untuk mengungsi hanyalah dirinya. “Bahkan istri saya pun tidak boleh saya kasih tahu,” ungkap Mbah Rono dengan tertawa. Pernah suatu saat sang istri dengan serius mengajaknya mengobrol, dan meminta supaya Mbah Rono tidak marah. Istrinya, bertanya kapan Merapi akan usai bererupsi. Kaget mendengarnya, Mbah Rono pun marah dan meminta istrinya untuk tidak menanyakan hal tersebut lagi, karena hanya dia yang boleh tahu. Tujuannya, agar semua orang tidak menjadi panik. “Media itu bisa menjadikan tempat kosong menjadi berisi, bahkan bisa tumpah. Itulah yang mengkhawatirkan saya. Jika saya kasih clue sedikit saja, media bisa membuat berita bencana menjadi heboh. Kasihan masyarakat Jogja,” jelas Mbah Rono.
Pada saat genting tersebut, ia membuat strategi, agar kota Jogja tetap aman dan nyaman pada saat bencana. Ia membuat strategi, tidak langsung memberikan jarak zona aman 20 km. Tetapi bertahap 5 km, 10 km, 15 km, dan 20 km. Memberikan perintah langsung di awal untuk zona aman 20 km, bisa saja ia lakukan. Tapi ia mempertimbangkan banyak hal. Ia melihat bahwa Jogja adalah kota pelajar, Karena semua pendatang seperti pelajar, wisatawan pasti akan pulang dan keluar dari kota Jogja. Kasihan rakyat Jogja. Sudah terkena bencana alam, masih harus terkena bencana ekonomi. “Maka saya memberikan strategi tersebut, mudah-mudahan benar dan berhasil,” harap Mbah Rono.
Prediksi bencana Merapi untuk kedepannya. Mbah Rono mengungkapkan, bencana ini merupakan siklus rutin per 2 tahun. Sehingga, ia tidak tahu kapan waktunya akan terjadi bencana serupa seperti tahun kemaren. “Saya bukan peramal. Tapi saya hanya bisa merekomendasikan. Bagi warga yang tinggal dekat dengan Merapi, harap diperhatikan akses untuk mengungsi, ketika Merapi mulai beraksi lagi. Seperti sarana jalan, kantor pemantauan merapi, kendaraan, dll,” jelas Mbah Rono. Dan yang terpenting, jangan ngeyel (keras kepala). Jika diminta untuk mengungsi maka mengungsilah. Karena ia menjelaskan, jika kali Gendol dan hutan disekitar Merapi belum tumbuh dan pulih seperti semua, maka bagaikan jalan tol bagi awan panas jika terjadi erupsi lagi. Dan tak ayal, wilayah zona aman bisa diperlebar langsung ke 20 km. Maka, Mbah Rono mengajak masyarakat agar mematuhi semua intruksi terkait bencana dari badan pemerintah. “Jangan ada kata pokoke aku, yang terkesan keras kepala,” jelas Mbah Rono disambut gelak tawa dari tamu yang hadir.
Mbah Rono berharap ketika Merapi mulai aktif lagi, ia sudah pensiun dari jabatannya. Ia ingin istirahat, karena lelah selalu memendam suatu fakta demi banyak orang, dan dikeluarkan pada saat yang tepat. Pilihan hidup yang sangat berat, tetapi ia menikmatinya.
![]() |
| Berfoto seusai bedah buku. |

0 komentar:
Post a Comment