Selesai shalat maghrib dan isya berjamaah di Masjid milik Pesantren Nurul Ummahat, Kotagede, Yogyakarta, anak-anak satu persatu dipanggil oleh Bapak dan Ibu Abdul Muhaimin, pengasuh pesantren tersebut, untuk diberikan sejumlah uang. Setelah mendapatkan uang, mereka menandatangani absensi, kemudian pulang ke rumah masing-masing.
“Terima kasih Pak, Bu. Assalammualaikum,” ucap salah satu anak. “Wa’alaikumsalam. Belajar yang rajin ya nak,” balas Ibu Muhaimin. Sementara Bapak Muhaimin, sibuk memanggili anak lainnya dengan microphone yang terhubung ke loudspeaker Masjid. Terlihat raut muka anak-anak yang gembira dan bersyukur atas rejeki yang mereka terima malam itu.
Malam itu, adalah malam jumat minggu kedua, sudah menjadi kebiasaan bagi keluarga Muhaimin membagikan uang beasiswa kepada 30 anak asuhnya. Uang Rp 150 ribu di berikan setiap bulannya kepada anak-anak yang masih duduk di sekolah baik SD, SMP, maupun SMA. “Uang ini digunakan untuk membayar SPP bulanan mereka,” jelas Muhaimin setelah selesai memanggili anak-anak.
Anak-anak yang diberi beasiswa tidak hanya dari warga sekitar Kotagede, tetapi juga dari Bantul, Piyungan, dan anak-anak korban gempa Jogja 4 tahun yang lalu. Mereka adalah anak-anak penerus bangsa yang punya keinginan besar untuk maju tetapi terbatas dalam hal keuangan. Tidak memandang dari kalangan NU atau Muhammadiyah, semua anak yang mau berkembang ia bantu.
“Anda tahu, siapa pemberi beasiswa ini?” tanya Muhaimin kepadaku. Tanpa basa-basi, aku pun menggelengkan kepala dan kaget, karena ternyata pemberi beasiswa adalah Pastor-Pastor dari Italia. “Mereka memberikan beasiswa ini tanpa ada perjanjian tertulis lho,” jelas Muhaimin. Bagaimana bisa? Ternyata, beasiswa ini diberikan berbekal kepercayaan seorang sahabat kepadanya, yaitu Romo Ignasius Suharyo, yang saat ini adalah Uskup Agung Jakarta. “Saya sudah bersahabat dengan Romo Haryo sejak saya masih di pesantren, dan beliau masih di seminari. Jadi saya dapat beasiswa ini dari linknya Romo Haryo. Hanya berbekal kepercayaan, tidak ada surat kontrak atau semacamnya. Pokoknya berjalan begitu saja, uang dikirim, dan kami memberikan kepada anak-anak,” tambahnya.
Nama komunitas pemberi beasiswa ini adalah Sant’ Egidio, komunitas dari Italia yang mengusung semangat pluralisme, yang beberapa anggotanya adalah pastor-pastor di Italia. Mereka tidak hanya memberikan beasiswa kepada pesantren ini, tetapi juga ke anak-anak lainnya seperti di Sendangsono, anak panti asuhan Timor-Timur di Wonosari, dll.
“Biarpun tidak ada perjanjian tertulis, tapi kami harus melaporkan perkembangan pendidikan anak-anak tersebut ke pihak Sant’ Egidio setiap 3 bulan. Seperti hasil raport dan foto kegiatan mereka di sekolah. Biasanya kami kirimkan lewat email,” jelas Muhaimin.
Pemberian beasiswa ini sudah berlangsung selama 4 tahun, dan tidak tahu sampai kapan akan berakhir. Karena bagi Muhaimin, kerjasama ini hanya berlandaskan kepercayaan saja, persahabatan yang sudah dijalin lama dengan Romo Suharyo. Sehingga motivasi utama dari pemberian beasiswa ini yaitu rasa kemanusiaan membantu wong cilik yang punya keinginan keras untuk maju.
Hingga saat ini yang diberi beasiswa tinggal 27 anak, karena 2 anak setelah diberi beasiswa dari SD hingga SMP, ia tidak memilih untuk melanjutkan ke SMA, sehingga tidak dilanjutkan pemberian beasiswanya. Sedangkan 1 anak pindah sekolah ke Wonogiri, dan tidak pernah melaporkan hasil raport maupun foto kegiatan selama di sana. Maka, tidak ada laporan pertanggungjawaban ke Sant’ Egidio. Sehingga, beasiswa pun tidak dilanjutkan. “Anak-anak ini diberi beasiswa, ada yang sejak masih SD dan ada yang sudah SMP. Tapi kebanyakan sejak masih SD, dan akan diberikan sampai SMA,” tambah Muhaimin.
Selain beasiswa dari Sant’ Egidio ini, Muhaimin juga mencari donatur yang lain. Karena kebutuhan anak sekolah cukup banyak, seperti alat sekolah, tas, buku, pensil, pulpen, dll. Uang yang diberikan ini hanya cukup untuk membayar SPP saja, sedangkan untuk memenuhi kebutuhan lainnya, ia meminta dari koleganya, seperti pemilik toko stationery di Jogja untuk memberikan alat tulis dan tas, atau ada temannya yang menjabat kepala cabang sebuah bank swasta untuk membantu membeli buku.
Bagi Muhaimin, siapapun jika punya motif kemanusiaan ingin membantu, pasti akan ia terima dengan tangan terbuka. Tidak peduli dari kalangan manapun, dari agama manapun. Karena uang tidak ada agamanya.
Sejenak batinku menegaskan, benar juga ya, uang tidak ada agamanya, jadi mengapa terkadang kita harus membedakan ketika memberikan bantuan kepada sesama yang membutuhkan. Seperti contohnya memberikan bantuan ke panti asuhan, terkadang kita memilih panti asuhan yang mempunyai agama sama dengan kita. Dengan dalih, mereka ada sesama kaumku yang butuh dibantu. Kata “kaumku” disini seharusnya adalah sesama manusia dari berbagai golongan ras, budaya, suku, dan agama. Bukan kaum yang hanya memiliki persamaan denganku. Jadi, siapapun yang membutuhkan perlu kita bantu tanpa memandang perbedaan, begitu pula dengan yang dibantu.
Muhaimin sempat menceritakan, ketika gempa di Jogja beberapa tahun yang lalu, ada sekelompok warga di beberapa daerah tertentu yang mau menerima bantuan hanya dari seseorang atau komunitas yang mempunyai agama yang sama dengan mereka. Cukup memprihatinkan. Tapi hal ini sebenarnya tidak perlu terjadi, jika ketakutan-ketakutan warga dibalik bantuan yang diberikan akan terdapat sesuatu yang merugikan dipupus dalam-dalam. Akhirnya, Muhaimin berusaha untuk menengahinya dengan mengumpulkan berbagai elemen tokoh agama yang tergabung dalam Forum Persaudaraan Umat Beragama (FPUB) untuk membantu menyalurkan bantuan. Dengan seperti ini bantuan yang disebarkan bisa merata. “Karena menurut saya, bantuan seperti uang, beras, tenda, selimut, tidak ada agamanya,” tegas Muhaimin.
Semangat Muhaimin inilah yang menjadi dasar awal pembentukan FPUB di Jogja. Anggotanya terdiri dari pemuka 6 agama di Indonesia dan pemuka aliran-aliran kepercayaan. Semua kegiatannya berlandaskan rasa kebangsaan. Forum ini awalnya dibentuk tahun 1997 untuk membantu mengantisipasi kerusuhan saat itu yang banyak mengatasnamakan golongan ras dan agama tertentu. Kemudian kegiatannya berkembang menjadi forum untuk berdialog tentang agama kebangsaan, dan saat ini gerakan-gerakan yang dilakukan FPUB sudah menjadi spiritualitas kebangsaan.
“Gerakan yang membawa semangat nasionalisme itu banyak keuntungannya, karena tidak membawa nama agama manapun. Semuanya sama. Sehingga, tidak mendatangkan banyak musuh, malah mendatangkan banyak sahabat baru,” jelas Muhaimin.
Benar juga ya. Buktinya, Muhaimin sudah berhasil menciptakan dunia kecil di rumahnya, di pesantrennya. Apalagi saat ini Muhaimin menjabat sebagai Ketua Himpunan Tokoh Agama Indonesia atau ICRP (Indonesian Conference on Religion an Peace). Semakin luaslah misi yang ia sebarkan. Mengapa kita harus memilih membatasi diri dengan keterbatasan-keterbatasan, kalau kita punya pilihan untuk lepas bebas.
Perlu diketahui juga, pesantren yang ada di tengah kampung Kotagede ini, pernah didatangi tamu dari 32 negara di dunia, seperti contohnya tokoh agama Budha dari Jepang yang menginap sampai 1,5 bulan di pesantren ini, pendeta Kristen dari Indiana yang menginap hingga 2 bulan, bahkan utusan Obama pun pernah menyambangi pesantren ini. Dunia kecil benar-benar tercipta di sini.
Rasanya satu hari satu malam tak cukup buatku untuk menyelami lebih dalam kehidupan di pesantren ini. Tapi aku bersyukur, bisa mengikuti kegiatan live in di pesantren ini bersama teman-teman komunitas Magis, komunitas anak muda Kristiani yang mengusung spiritualitas Ignasian dalam kegiatannya.
Semangat berbagi, melayani dan persahabatan yang diusung dalam kelompok Magis, benar-benar aku rasakan ketika bersama dengan keluarga Muhaimin. Aku bisa berkenalan dengan para santri, berbagai pengalaman dan merasakan kehidupan mereka lebih dalam. Disitulah aku menemukan Tuhan. Bahwa Tuhan itu milik semua orang. Siapapun bisa memiliki, jika kita ingin dekat denganNya.
Aku merasakan, bagaimana para santri sangat dekat dengan Tuhan. Dalam satu hari mereka menyempatkan lima waktu untuk berbicara dengan Tuhan. Sedangkan aku biasanya doa 15 menit saja, susahnya setengah mati. Tetapi dengan melihat kebiasaan hidup mereka kesadaranku untuk sering berkomunikasi dengan Tuhan semakin bertambah. Apalagi di magis diajarkan untuk berdoa hening, seperti meditasi dan examen masing-masing selama 15 menit. Meditasi, doa hening dengan duduk bersila dan pikiran terfokus pada Tuhan, membawa kita menyadari bahwa Tuhan selalu ada didekatku. Sedangkan examen, adalah doa hening merefleksikan peristiwa yang sudah kita lalui seharian penuh. Peristiwa mana yang sangat berkesan, dan disana bisa merasakan gerakan Roh Tuhan bekerja. Sehingga dengan meditasi dan examen ini bisa semakin menguatkanku dalam menjalani kehidupan, karena aku dibuat semakin dekat dengan Tuhan, layaknya para santri yang berdoa lima waktu dalam sehari.
Semangat berbagi kepada sesama ini aku rasakan juga sebaliknya, yaitu semangat berbagi dari Pak Muhaimin dan keluarga kepada kami. Seperti penerimaan yang hangat ketika kami datang, suguhan makanan yang enak, diskusi yang hangat tentang pluralisme, jawaban sejelas-jelasnya yang diberikan Pak Muhaimin kepada setiap pertanyaan kami yang kebanyakan tentang ajaran Islam dan perannya di Indonesia. Selain itu, kami juga diajak berjalan-berjalan ke Masjid Islam yang bangunannya berciri khas Hindu, dan mengusung semangat pluralisme. Penerimaan yang hangat tersebut, membukakan mata kami, bahwa kita adalah manusia yang memiliki ketaqwaan yang sama terhadap Tuhan YME. Sehingga, diharapkan setelah kegiatan ini, kami bisa menyebarkan semakin luas kepada kaum muda Kristiani lainnya, bahwa hidup mendalami perbedaan itu indah.
Semangat berbagi yang aku rasakan, jadi mengingatkanku ketika, di dalam magis pernah mengolah tentang hidup yang mempunyai sarana dan tujuan. Kegiatan live in ini benar-benar merefleksikan pengolahan tersebut, bahwa tujuan hidup sebenarnya adalah demi kemuliaan Tuhan. Melalui kegiatan ini, aku diingatkan kembali untuk mempertegas tujuan hidupku sebenarnya yaitu berbagi dengan siapa saja tanpa memandang agama, suku dan ras. Ketika aku bisa merasakan bahagia yang sangat puas karena bisa berbagi dengan siapapun tanpa dibatasi oleh apapun. Maka, itulah tujuan hidupku sebenarnya. Live in di pesantren bagiku merupakan sarana awal yang tepat dan mendukung untuk mencapai tujuanku.
Kegiatan live in adalah awal yang baik untuk membuka wacana pikiran kaum muda sepertiku, yang dari kecil hingga dewasa hidup dalam komunitas homogen, untuk semakin melihat lebih luas, bahwa banyak komunitas lain diluar yang bisa diselami kehidupannya. Bahwa hidup itu tidak hanya melulu dalam satu komunitas. Mentang-mentang lingkunganku yang homogen sudah menyediakan semua aspek kehidupan, seperti keuangan, kesejahteraan, budaya, dan pendidikan. Kemudian aku tidak mau bergaul dengan yang beda komunitas. Padahal, banyak sekali keunikan dan pelajaran yang bisa didapatkan dari menyelami kehidupan mereka yang berbeda. Kita bisa menambah banyak teman, bisa berbagai ilmu pengetahuan tentang agama, sikap hidup, dan tujuan mereka hidup, sehingga bisa memperkaya dan tentunya akan membentuk cara berpikir yang lebih berkarakter. Tak rugi juga, jika kita berbaur memperluas komunitas, karena kita bisa memberi apa yang kita punya ke lebih besar orang dari berbagai golongan. Nlai pelayanan cinta kasih yang dominan aku dapatkan bisa semakin luas diterapkan. Rasanya akan indah, jika bisa hidup berdampingan dan berbagi dengan mereka yang berbeda. Uang saja yang tidak ada agamanya bisa dimiliki oleh semua orang, masakan kita yang punya agama malah menutup diri untuk tidak dimiliki oleh banyak orang diluar lingkungan kita?
Kegiatan ini, secara tidak langsung memberikan PR yang banyak bagi kaum muda terutama Kristiani, untuk semakin plural dalam bergaul dan berkarya. Tidak hanya bergaul dan berkarya dalam gereja saja, misal mudika, koor, dan berteman dengan satu gereja saja, tetapi memperluas karya ke sesama di luar komunitas, misalnya dengan mengadakan sarasehan atau dialog bersama organisasi pemuda agama lain, membentuk kepanitiaan bersama, dan mengadakan kegiatan-kegiatan lainnya yang melibatkan warga dari komunitas lain. Seperti satu kegiatan yang sudah diadakan oleh kelompok muda dari Gereja Kotabaru dengan kelompok muda dari Masjid Suhada Yogyakarta, yaitu gotong royong membersihkan kali code dan sekitarnya. Dengan kegiatan seperti ini, bisa menjalin persahabatan semakin luas dan bisa meminimalisir masalah yang akan timbul terkait perbedaan.
Disini aku bisa merasakan magis bekerja, yaitu menjadi lebih dalam hidup. Ketika orang lain memandang itu susah dan tidak mungkin. Kita membuatnya menjadi mungkin dan melakukannya, selama yang kita lakukan demi kemuliaan Tuhan. AD MAOREM DE GLORIAM.
Lisa Esti Puji H
MAGiS 10