Thursday, January 5, 2012

PEREMPUAN ABAD DIGITAL


Kata perempuan dalam bahasa Sansekerta, berasal dari kata empu yang artinya yang dihormati. Dari arti katanya saja, perempuan sudah berada di posisi yang di atas. Maka sangatlah wajar jika perempuan memiliki kemauan yang besar untuk selalu maju, dan sukses dalam hidupnya, sehingga bisa dihormati oleh orang-orang disekitarnya.     

Semangat menjadi lebih dan tidak ingin menjadi orang yang biasa-biasa saja, membawa perempuan kepada era kesetaraan gender. Di Indonesia, perjuangan yang besar untuk mencapai itu dilakukan oleh perempuan-perempuan tangguh jaman dulu seperti Cut Nyak Dien yang mau menikahi Teuku Umar asalkan ia masih tetap bisa berperang melawan penjajah. Dewi Sartika yang menggemparkan daerah Cicalengka karena ia yang pada saat ini berusia 10 tahun, bisa mengajari anak-anak pembantu di kepatihan untuk belajar baca tulis dan bahasa Belanda, kemudan setelah ia menikah, mendirikan Sakola Istri (Sekolah Perempuan) pertama di Hindia Belanda yang kemudian berubah nama menjadi “Sakola Raden Dewi”. Karena perjuangannya ini, Dewi Sartika akhirnya dianugerahi bintang jasa oleh pemerintah Hindia Belanda. Selain 2 wanita tangguh tersebut, Indonesia juga memiliki 1 tokoh wanita yang membawa perempuan Indonesia ke arah kesetaraan, yaitu Raden Ajeng Kartini, anak Bupati Jepara yang tidak ingin hanya duduk diam menikmati kekayaan bapaknya, tetapi ia ingin berbuat lebih dengan membuat sekolah perempuan, sehingga perempuan tidak hanya di rumah saja tetapi bisa pintar dan bisa membuat perubahan untuk dunia. 

Sifat ingin maju yang dimiliki oleh pendahulu ini, ternyata semakin berkembang sampai saat ini, terutama di abad digital. Bahkan perempuan sekarang sudah bisa menjadi pelaku dalam dunia digital. Ada fakta menarik, bahwa presentase perempuan pengguna internet di Indonesia mencapai 36%, masih di bawah laki-laki yang mencapai 64%. Tetapi dari data ini, menunjukkan bahwa perempuan sudah ikut andil dalam arus digital. Bahkan perbandingan perempuan pengguna jejaring social seperti facebook terpaut tipis dengan laki-laki yaitu 41:59. Menurut data dari Digital Strategist dari Magnivate Digital Consulting, inilah alasan kenapa perempuan melakukan jejaring sosial di internet:
  • Terkoneksi dengan teman/keluarga: 75%
  • Hiburan: 57%
  • Terhubung dengan orang lain: 52%
  • Berbagi opini tentang sesuatu: 32%
  • Mendapat informasi: 34%
(Data dari www.kompas.com)

Alasan tersebut menunjukkan keaktifan perempuan dalam komunitas sosial kemasyarakatan sangat tinggi. Jadi perempuan tidak hanya sekedar pasif di rumah, mengerjakan urusan rumah tangga, dan melayani suami bagi yang sudah bersuami. Bahwa perempuan saat ini memiliki kebutuhan eksistensi yang tinggi dan disalurkan dengan berjejaring dengan yang lain, dan dalam komunitas. 

Selain internet, dunia digital juga saat ini meluas sampai penggunaan barang-barang elektronik yang canggih seperti handphone, komputer, laptop, Ipad, dll. Barang-barang ini saat ini sudah menjadi alat dalam menunjang pekerjaan setiap orang. Perempuan pun tak ketinggalan, ikut ambil bagian dan aktif dalam menggunakannya. Banyak profesi yang mengandalkan alat canggih tersebut dikendalikan oleh perempuan, seperti salah satunya Anne Ahira seorang marketer online terkenal di Indonesia. Selain itu pekerjaan seperti desain grafis, fotografer, dll juga saat ini dijabat oleh perempuan.
Keaktifan perempuan dalam dunia digital ini, akan membawanya tidak hanyut dalam arus. Sehingga, perempuan tidak dikendalikan oleh teknologi, tetapi perempuanlah yang mengendalikan teknologi. Biarpun sekarang masih ada bahkan banyak perempuan yang sampai saat ini dikendalikan oleh teknologi. Seperti kasus penculikan anak-anak remaja perempuan karena facebook. Tetapi melalui tulisan ini saya mengajak para Kartini Indonesia jaman sekarang untuk selalu aktif dan punya prinsip dalam menjalani hidup di abad digital ini. Sehingga kita sebagai perempuan Indonesia bukan lagi menjadi following (mengikuti) tetapi follower (pengikut/yang diikuti).

DI BALIK KEBIJAKAN MBAH RONO


“Kita adalah bagian dari alam. Maka janganlah saru (red. berlaku tidak layak) sama alam,” jelas Mbah Rono, sapaan akrabnya yang muncul sejak peristiwa bencana Merapi melanda Jogjakarta November 2010. Bencana Merapi bisa merenggut puluhan jiwa ini, berawal dari dihiraukannya perintah untuk mengungsi ke zona aman yang sudah ditentukan oleh pemerintah dalam hal ini Badan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVBMG) yang dipimpin oleh Surono. Padahal perintah tersebut dikeluarkan tanpa rekayasa. Mbah Rono dengan perawakannya yang tenang, mengatakan bahwa instruksi yang ia keluarkan sudah melalui penyaringan dan pertimbangan yang sangat matang. Semua itu ia simpan rapat dalam dirinya, karena ia ingin semua orang tidak panik. 


Di sela bedah buku terbitan Galangpress yang berjudul “Membidik Peristiwa Jadi Berita” karya Regina Safri, seorang fotografer dari Antara ini, Mbah Rono yang menjadi pembicara, secara blak-blakan menjelaskan tentang dibalik kebijakannya pada saat menentukan zona aman bencana Merapi. Ia menjelaskan yang tahu berapa jarak aman untuk mengungsi hanyalah dirinya. “Bahkan istri saya pun tidak boleh saya kasih tahu,” ungkap Mbah Rono dengan tertawa. Pernah suatu saat sang istri dengan serius mengajaknya mengobrol, dan meminta supaya Mbah Rono tidak marah. Istrinya, bertanya kapan Merapi akan usai bererupsi. Kaget mendengarnya, Mbah Rono pun marah dan meminta istrinya untuk tidak menanyakan hal tersebut lagi, karena hanya dia yang boleh tahu. Tujuannya, agar semua orang tidak menjadi panik. “Media itu bisa menjadikan tempat kosong menjadi berisi, bahkan bisa tumpah. Itulah yang mengkhawatirkan saya. Jika saya kasih clue sedikit saja, media bisa membuat berita bencana menjadi heboh. Kasihan masyarakat Jogja,” jelas Mbah Rono.

Pada saat genting tersebut, ia membuat strategi, agar kota Jogja tetap aman dan nyaman pada saat bencana. Ia membuat strategi, tidak langsung memberikan jarak zona aman 20 km. Tetapi bertahap 5 km, 10 km, 15 km, dan 20 km. Memberikan perintah langsung di awal untuk zona aman 20 km, bisa saja ia lakukan. Tapi ia mempertimbangkan banyak hal. Ia melihat bahwa Jogja adalah kota pelajar, Karena semua pendatang seperti pelajar, wisatawan pasti akan pulang dan keluar dari kota Jogja. Kasihan rakyat Jogja. Sudah terkena bencana alam, masih harus terkena bencana ekonomi. “Maka saya memberikan strategi tersebut, mudah-mudahan benar dan berhasil,” harap Mbah Rono.

Prediksi bencana Merapi untuk kedepannya. Mbah Rono mengungkapkan, bencana ini merupakan siklus rutin per 2 tahun. Sehingga, ia tidak tahu kapan waktunya akan terjadi bencana serupa seperti tahun kemaren. “Saya bukan peramal. Tapi saya hanya bisa merekomendasikan. Bagi warga yang tinggal dekat dengan Merapi, harap diperhatikan akses untuk mengungsi, ketika Merapi mulai beraksi lagi. Seperti sarana jalan, kantor pemantauan merapi, kendaraan, dll,” jelas Mbah Rono. Dan yang terpenting, jangan ngeyel (keras kepala). Jika diminta untuk mengungsi maka mengungsilah. Karena ia menjelaskan, jika kali Gendol dan hutan disekitar Merapi belum tumbuh dan pulih seperti semua, maka bagaikan jalan tol bagi awan panas jika terjadi erupsi lagi. Dan tak ayal, wilayah zona aman bisa diperlebar langsung ke 20 km. Maka, Mbah Rono mengajak masyarakat agar mematuhi semua intruksi terkait bencana dari badan pemerintah. “Jangan ada kata pokoke aku, yang terkesan keras kepala,” jelas Mbah Rono disambut gelak tawa dari tamu yang hadir.  

Mbah Rono berharap ketika Merapi mulai aktif lagi, ia sudah pensiun dari jabatannya. Ia ingin istirahat, karena lelah selalu memendam suatu fakta demi banyak orang, dan dikeluarkan pada saat yang tepat. Pilihan hidup yang sangat berat, tetapi ia menikmatinya. 

Berfoto seusai bedah buku.