Monday, September 6, 2010

Warga Lapas Menulis

Senin, 14 Maret 2010, tujuh editor utusan Penerbit Galangpress Group mengadakan workshop menulis di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA, Wirogunan, Yogyakarta. Untuk pertama kalinya, Galangpress menyelenggarakan workshop yang semua pesertanya adalah para warga binaan lapas. “Ini adalah salah satu bentuk kerjasama kemanusiaan galangpress. Kami ingin sekali membuat warga binaan di lapas bisa menulis dan membagikan pengalaman inspiratifnya ke masyarakat luas,” jelas Julius Felicianus, direktur Galangpress ketika membuka workshop.

Workshop ini mengambil tema “Menembus Katak dalam Tempurung”. Maknanya adalah penghuni lapas memang terbelenggu fisiknya, namun pikiran, kreativitas, ide, imajinasi mereka tidak terbelenggu melainkan lepas bebas. “Lewat menulis, para napi bisa menyuarakan kehidupannya secara leluasa. Mereka bisa bercerita bagaimana keseharian di hotel prodeo. Mereka bisa bertutur tentang harapan sehabis masa hukuman dijalani. Mereka bisa bercerita tentang cinta, air mata, dan tawa,” ungkap AA Kunto A, salah satu trainer workshop dari Galangpress, yang juga pencetus tema tersebut.

Kategori tulisan yang akan dituliskan adalah seputar kisah-kisah inspiratif keseharian mereka selama menjalani hidup di lapas. Bagaimana mereka bangkit dari keterpurukan, menemukan Tuhan, mengatasi kegelisahan akan penyesalam masa lalu, dan menjadi seorang pemenang dalam hidup mereka. Sehingga, melalui tulisan ini, mereka diajak untuk mengingat dan mengakrabi masalah yang terjadi pada masa lalu, bukan menjauhinya. Karena setiap masalah mempunyai hikmah yang bisa dipetik untuk menjadi bekal menjalani hidup, baik bagi mereka sendiri yang mengalami maupun orang disekitarnya, bahkan masyarakat luas yang mengetahui kisah mereka.    

Workshop yang merupakan bentuk kerjasama dengan pihak Lapas dan Rumah Terampil (koordinator acara) ini mendapat antusias yang sangat besar dari warga binaan. Terbukti dari banyaknya yang ingin mendaftar. Tetapi karena keterbatasan tempat, sehingga yang ikut hanya bisa sekitar 30 orang. Biarpun dibatasi, workshop tetap berjalan sangat kondusif, karena keinginan para peserta untuk belajar menulis sangat besar.

Setelah mengikuti workshop ini, berbekal materi yang sudah didapatkan, mereka diberi waktu sekitar satu bulan untuk menuliskan kisah inspiratif masing-masing, untuk kemudian dikumpul dan diseleksi. Hasil seleksi ini nantinya akan dibukukan oleh penerbit. Sebelum dibukukan, pihak penyeleksi yang tak lain adalah tim editor dari penerbit, terlebih dahulu menentukan juara 1 sampai 4, dan diumumkan ketika hari ulang tahun lapas, 14 Mei. Hasilnya, juara 1 diraih oleh Siantika Umayanti dengan judul “Lebih Dari Pemenang”, juara 2 diraih Dinar dengan judul “Gita Cinta dari Penjara”, juara 3 di raih Paskalis Benyamin dengan judul “Harapan yang Fana”, dan juara 4 diraih Winardi dengan judul “Aku dan Kakakku”.

Akhirnya, tulisan para jawara tersebut dibukukan bersama dengan 17 tulisan dari penghuni lapas lainnya yang lolos seleksi. Buku yang berjudul “Katak Menembus Tempurung; 19 Kisah Inspiratif dari Balik Penjara” dilaunching bertepatan dengan upacara remisi para warga binaan lapas, Senin, 16 agustus 2010 di Lapas Wirogunan Yogyakarta.

Buku tersebut merupakan buku PERTAMA DI INDONESIA yang ditulis oleh para WARGA BINAAN dari dalam tembok Lapas Wirogunan Yogyakarta. Berisi 19 kisah menggetarkan yang menggugah jiwa bagi pembaca. Selain itu, buku tersebut juga dilengkapi dengan kumpulan kata-kata motivasi berdosis tinggi dari warga binaan. Buku bisa diperoleh di toko buku seluruh Indonesia, dan toko online www.galangpress.com. 

Diharapkan dengan adanya buku ini, bisa mengubah cara pandang masyarakat Indonesia terhadap para warga yang masuk lapas. Bahwa, mereka tidak ada bedanya dengan orang yang tidak dipenjara. Mereka juga mempunyai harapan, cita-cita, kenginan untuk berubah, sikap yang baik, dan hati nurani sebagai manusia. Mereka hanya terjebak dalam situasi dan kondisi yang tidak mereka inginkan. Jika ingin memilih, mereka sama dengan semua orang, hidup aman, nyaman, tentram. Salut untuk penghuni lapas, yang mempunyai keteguhan kuat untuk maju dan berkembang. Saat ini mereka sudah keluar dari tempurung. Hidup mereka akan menjadi refleksi positif bagi semua orang. 



Saturday, September 4, 2010

Uang, Agamamu Apa?




  


     Selesai shalat maghrib dan isya berjamaah di Masjid milik Pesantren Nurul Ummahat, Kotagede, Yogyakarta, anak-anak satu persatu dipanggil oleh Bapak dan Ibu Abdul Muhaimin, pengasuh pesantren tersebut, untuk diberikan sejumlah uang. Setelah mendapatkan uang, mereka menandatangani absensi, kemudian pulang ke rumah masing-masing.
“Terima kasih Pak, Bu. Assalammualaikum,” ucap salah satu anak. “Wa’alaikumsalam. Belajar yang rajin ya nak,” balas Ibu Muhaimin. Sementara Bapak Muhaimin, sibuk memanggili anak lainnya dengan microphone yang terhubung ke loudspeaker Masjid. Terlihat raut muka anak-anak yang gembira dan bersyukur atas rejeki yang mereka terima malam itu.
Malam itu, adalah malam jumat minggu kedua, sudah menjadi kebiasaan bagi keluarga Muhaimin membagikan uang beasiswa kepada 30 anak asuhnya. Uang Rp 150 ribu di berikan setiap bulannya kepada anak-anak yang masih duduk di sekolah baik SD, SMP, maupun SMA. “Uang ini digunakan untuk membayar SPP bulanan mereka,” jelas Muhaimin setelah selesai memanggili anak-anak.
Anak-anak yang diberi beasiswa tidak hanya dari warga sekitar Kotagede, tetapi juga dari Bantul, Piyungan, dan anak-anak korban gempa Jogja 4 tahun yang lalu. Mereka adalah anak-anak penerus bangsa yang punya keinginan besar untuk maju tetapi terbatas dalam hal keuangan. Tidak memandang dari kalangan NU atau Muhammadiyah, semua anak yang mau berkembang ia bantu.
 “Anda tahu, siapa pemberi beasiswa ini?” tanya Muhaimin kepadaku. Tanpa basa-basi, aku pun menggelengkan kepala dan kaget, karena ternyata pemberi beasiswa adalah Pastor-Pastor dari Italia. “Mereka memberikan beasiswa ini tanpa ada perjanjian tertulis lho,” jelas Muhaimin. Bagaimana bisa? Ternyata, beasiswa ini diberikan berbekal kepercayaan seorang sahabat kepadanya, yaitu Romo Ignasius Suharyo, yang saat ini adalah Uskup Agung Jakarta. “Saya sudah bersahabat dengan Romo Haryo sejak saya masih di pesantren, dan beliau masih di seminari. Jadi saya dapat beasiswa ini dari linknya Romo Haryo. Hanya berbekal kepercayaan, tidak ada surat kontrak atau semacamnya. Pokoknya berjalan begitu saja, uang dikirim, dan kami memberikan kepada anak-anak,” tambahnya.
Nama komunitas pemberi beasiswa ini adalah Sant’ Egidio, komunitas dari Italia yang mengusung semangat pluralisme, yang beberapa anggotanya adalah pastor-pastor di Italia. Mereka tidak hanya memberikan beasiswa kepada pesantren ini, tetapi juga ke anak-anak lainnya seperti di Sendangsono, anak panti asuhan Timor-Timur di Wonosari, dll.
 “Biarpun tidak ada perjanjian tertulis, tapi kami harus melaporkan perkembangan pendidikan anak-anak tersebut ke pihak Sant’ Egidio setiap 3 bulan. Seperti hasil raport dan foto kegiatan mereka di sekolah. Biasanya kami kirimkan lewat email,” jelas Muhaimin.
Pemberian beasiswa ini sudah berlangsung selama 4 tahun, dan tidak tahu sampai kapan akan berakhir. Karena bagi Muhaimin, kerjasama ini hanya berlandaskan kepercayaan saja, persahabatan yang sudah dijalin lama dengan Romo Suharyo. Sehingga motivasi utama dari pemberian beasiswa ini yaitu rasa kemanusiaan membantu wong cilik yang punya keinginan keras untuk maju.
Hingga saat ini yang diberi beasiswa tinggal 27 anak, karena 2 anak setelah diberi beasiswa dari SD hingga SMP, ia tidak memilih untuk melanjutkan ke SMA, sehingga tidak dilanjutkan pemberian beasiswanya. Sedangkan 1 anak pindah sekolah ke Wonogiri, dan tidak pernah melaporkan hasil raport maupun foto kegiatan selama di sana. Maka, tidak ada laporan pertanggungjawaban ke Sant’ Egidio. Sehingga, beasiswa pun tidak dilanjutkan. “Anak-anak ini diberi beasiswa, ada yang sejak masih SD dan ada yang sudah SMP. Tapi kebanyakan sejak masih SD, dan akan diberikan sampai SMA,” tambah Muhaimin.
Selain beasiswa dari Sant’ Egidio ini, Muhaimin juga mencari donatur yang lain. Karena kebutuhan anak sekolah cukup banyak, seperti alat sekolah, tas, buku, pensil, pulpen, dll. Uang yang diberikan ini hanya cukup untuk membayar SPP saja, sedangkan untuk memenuhi kebutuhan lainnya, ia meminta dari koleganya, seperti pemilik toko stationery di Jogja untuk memberikan alat tulis dan tas, atau ada temannya yang menjabat kepala cabang sebuah bank swasta untuk membantu membeli buku.  
Bagi Muhaimin, siapapun jika punya motif kemanusiaan ingin membantu, pasti akan ia terima dengan tangan terbuka. Tidak peduli dari kalangan manapun, dari agama manapun. Karena uang tidak ada agamanya.
Sejenak batinku menegaskan, benar juga ya, uang tidak ada agamanya, jadi mengapa terkadang kita harus membedakan ketika memberikan bantuan kepada sesama yang membutuhkan. Seperti contohnya memberikan bantuan ke panti asuhan, terkadang kita memilih panti asuhan yang mempunyai agama sama dengan kita. Dengan dalih, mereka ada sesama kaumku yang butuh dibantu. Kata “kaumku” disini seharusnya adalah sesama manusia dari berbagai golongan ras, budaya, suku, dan agama. Bukan kaum yang hanya memiliki persamaan denganku. Jadi, siapapun yang membutuhkan perlu kita bantu tanpa memandang perbedaan, begitu pula dengan yang dibantu.
Muhaimin sempat menceritakan, ketika gempa di Jogja beberapa tahun yang lalu, ada sekelompok warga di beberapa daerah tertentu yang mau menerima bantuan hanya dari seseorang atau komunitas yang mempunyai agama yang sama dengan mereka. Cukup memprihatinkan. Tapi hal ini sebenarnya tidak perlu terjadi, jika ketakutan-ketakutan warga dibalik bantuan yang diberikan akan terdapat sesuatu yang merugikan dipupus dalam-dalam. Akhirnya, Muhaimin berusaha untuk menengahinya dengan mengumpulkan berbagai elemen tokoh agama yang tergabung dalam Forum Persaudaraan Umat Beragama (FPUB) untuk membantu menyalurkan bantuan. Dengan seperti ini bantuan yang disebarkan bisa merata. “Karena menurut saya, bantuan seperti uang, beras, tenda, selimut, tidak ada agamanya,” tegas Muhaimin.
Semangat Muhaimin inilah yang menjadi dasar awal pembentukan FPUB di Jogja. Anggotanya terdiri dari pemuka 6 agama di Indonesia dan pemuka aliran-aliran kepercayaan. Semua kegiatannya berlandaskan rasa kebangsaan. Forum ini awalnya dibentuk tahun 1997 untuk membantu mengantisipasi kerusuhan saat itu yang banyak mengatasnamakan golongan ras dan agama tertentu. Kemudian kegiatannya berkembang menjadi forum untuk berdialog tentang agama kebangsaan, dan saat ini gerakan-gerakan yang dilakukan FPUB sudah menjadi spiritualitas kebangsaan. 
“Gerakan yang membawa semangat nasionalisme itu banyak keuntungannya, karena tidak membawa nama agama manapun. Semuanya sama. Sehingga, tidak mendatangkan banyak musuh, malah mendatangkan banyak sahabat baru,” jelas Muhaimin.
Benar juga ya. Buktinya, Muhaimin sudah berhasil menciptakan dunia kecil di rumahnya, di pesantrennya. Apalagi saat ini Muhaimin menjabat sebagai Ketua Himpunan Tokoh Agama Indonesia atau ICRP (Indonesian Conference on Religion an Peace). Semakin luaslah misi yang ia sebarkan. Mengapa kita harus memilih membatasi diri dengan keterbatasan-keterbatasan, kalau kita punya pilihan untuk lepas bebas.
Perlu diketahui juga, pesantren yang ada di tengah kampung Kotagede ini, pernah didatangi tamu dari 32 negara di dunia, seperti contohnya tokoh agama Budha dari Jepang yang menginap sampai 1,5 bulan di pesantren ini, pendeta Kristen dari Indiana yang menginap hingga 2 bulan, bahkan utusan Obama pun pernah menyambangi pesantren ini. Dunia kecil benar-benar tercipta di sini.
Rasanya satu hari satu malam tak cukup buatku untuk menyelami lebih dalam kehidupan di pesantren ini. Tapi aku bersyukur, bisa mengikuti kegiatan live in di pesantren ini bersama teman-teman komunitas Magis, komunitas anak muda Kristiani yang mengusung spiritualitas Ignasian dalam kegiatannya.
Semangat berbagi, melayani dan persahabatan yang diusung dalam kelompok Magis, benar-benar aku rasakan ketika bersama dengan keluarga Muhaimin. Aku bisa berkenalan dengan para santri, berbagai pengalaman dan merasakan kehidupan mereka lebih dalam. Disitulah aku menemukan Tuhan. Bahwa Tuhan itu milik semua orang. Siapapun bisa memiliki, jika kita ingin dekat denganNya.
Aku merasakan, bagaimana para santri sangat dekat dengan Tuhan. Dalam satu hari mereka menyempatkan lima waktu untuk berbicara dengan Tuhan. Sedangkan aku biasanya doa 15 menit saja, susahnya setengah mati. Tetapi dengan melihat kebiasaan hidup mereka kesadaranku untuk sering berkomunikasi dengan Tuhan semakin bertambah. Apalagi di magis diajarkan untuk berdoa hening, seperti meditasi dan examen masing-masing selama 15 menit. Meditasi, doa hening dengan duduk bersila dan pikiran terfokus pada Tuhan, membawa kita menyadari bahwa Tuhan selalu ada didekatku. Sedangkan examen, adalah doa hening merefleksikan peristiwa yang sudah kita lalui seharian penuh. Peristiwa mana yang sangat berkesan, dan disana bisa merasakan gerakan Roh Tuhan bekerja. Sehingga dengan meditasi dan examen ini bisa semakin menguatkanku dalam menjalani kehidupan, karena aku dibuat semakin dekat dengan Tuhan, layaknya para santri yang berdoa lima waktu dalam sehari.    
Semangat berbagi kepada sesama ini aku rasakan juga sebaliknya, yaitu semangat berbagi dari Pak Muhaimin dan keluarga kepada kami. Seperti penerimaan yang hangat ketika kami datang, suguhan makanan yang enak, diskusi yang hangat tentang pluralisme, jawaban sejelas-jelasnya yang diberikan Pak Muhaimin kepada setiap pertanyaan kami yang kebanyakan tentang ajaran Islam dan perannya di Indonesia. Selain itu, kami juga diajak berjalan-berjalan ke Masjid Islam yang bangunannya berciri khas Hindu, dan mengusung semangat pluralisme. Penerimaan yang hangat tersebut, membukakan mata kami, bahwa kita adalah manusia yang memiliki ketaqwaan yang sama terhadap Tuhan YME. Sehingga, diharapkan setelah kegiatan ini, kami bisa menyebarkan semakin luas kepada kaum muda Kristiani lainnya, bahwa hidup mendalami perbedaan itu indah.
Semangat berbagi yang aku rasakan, jadi mengingatkanku ketika, di dalam magis  pernah mengolah tentang hidup yang mempunyai sarana dan tujuan. Kegiatan live in ini benar-benar merefleksikan pengolahan tersebut, bahwa tujuan hidup sebenarnya adalah demi kemuliaan Tuhan. Melalui kegiatan ini, aku diingatkan kembali untuk mempertegas tujuan hidupku sebenarnya yaitu berbagi dengan siapa saja tanpa memandang agama, suku dan ras. Ketika aku bisa merasakan bahagia yang sangat puas karena bisa berbagi dengan siapapun tanpa dibatasi oleh apapun. Maka, itulah tujuan hidupku sebenarnya. Live in di pesantren bagiku merupakan sarana awal yang tepat dan mendukung untuk mencapai tujuanku.
Kegiatan live in adalah awal yang baik untuk membuka wacana pikiran kaum muda sepertiku, yang dari kecil hingga dewasa hidup dalam komunitas homogen, untuk semakin melihat lebih luas, bahwa banyak komunitas lain diluar yang bisa diselami kehidupannya. Bahwa hidup itu tidak hanya melulu dalam satu komunitas. Mentang-mentang lingkunganku yang homogen sudah menyediakan semua aspek kehidupan, seperti keuangan, kesejahteraan, budaya, dan pendidikan. Kemudian aku tidak mau bergaul dengan yang beda komunitas. Padahal, banyak sekali keunikan dan pelajaran yang bisa didapatkan dari menyelami kehidupan mereka yang berbeda. Kita bisa menambah banyak teman, bisa berbagai ilmu pengetahuan tentang agama, sikap hidup, dan tujuan mereka hidup, sehingga bisa memperkaya dan tentunya akan membentuk cara berpikir yang lebih berkarakter. Tak rugi juga, jika kita berbaur memperluas komunitas, karena kita bisa memberi apa yang kita punya ke lebih besar orang dari berbagai golongan. Nlai pelayanan cinta kasih yang dominan aku dapatkan bisa semakin luas diterapkan. Rasanya akan indah, jika bisa hidup berdampingan dan berbagi dengan mereka yang berbeda. Uang saja yang tidak ada agamanya bisa dimiliki oleh semua orang, masakan kita yang punya agama malah menutup diri untuk tidak dimiliki oleh banyak orang diluar lingkungan kita?
Kegiatan ini, secara tidak langsung memberikan PR yang banyak bagi kaum muda terutama Kristiani, untuk semakin plural dalam bergaul dan berkarya. Tidak hanya bergaul dan berkarya dalam gereja saja, misal mudika, koor, dan berteman dengan satu gereja saja, tetapi memperluas karya ke sesama di luar komunitas, misalnya dengan mengadakan sarasehan atau dialog bersama organisasi pemuda agama lain, membentuk kepanitiaan bersama, dan mengadakan kegiatan-kegiatan lainnya yang melibatkan warga dari komunitas lain. Seperti satu kegiatan yang sudah diadakan oleh kelompok muda dari Gereja Kotabaru dengan kelompok muda dari Masjid Suhada Yogyakarta, yaitu gotong royong membersihkan kali code dan sekitarnya. Dengan kegiatan seperti ini, bisa menjalin persahabatan semakin luas dan bisa meminimalisir masalah yang akan timbul terkait perbedaan.
Disini aku bisa merasakan magis bekerja, yaitu menjadi lebih dalam hidup. Ketika orang lain memandang itu susah dan tidak mungkin. Kita membuatnya menjadi mungkin dan melakukannya, selama yang kita lakukan demi kemuliaan Tuhan. AD MAOREM DE GLORIAM.




Lisa Esti Puji H
MAGiS 10

 

















Saturday, July 17, 2010

Bahasa Indonesia = Bahasa Iklan




Gak usah mikir klo mo nelpon, kata monyet yang ada di iklan XL. Klo mikir berarti monyet,” ungkap pembicara Putu Fajar Arcana, editor SKH Kompas Jogja disambut tawa riuh peserta yang hadir pada acara Sarasehan Kebahasaan Forum Bahasa Media Massa (FBMM) di Balai Bahasa Yogyakarta, Selasa 2 Desember 2008.
Dalam acara yang bertema “Bahasa Media Massa: Realitas dan Harapan” tersebut, Can, panggilan akrab wartawan yang juga sastrawan tersebut, menjelaskan tentang kekuatan bahasa iklan yang bisa mengkonstruksi pikiran masyarakat saat ini hingga berpengaruh ke sikap hidup. Misal, kata “diskon”, adalah kata emas bagi kaum ibu untuk berbelanja, sedangkan bagi para suami adalah kata yang menakutkan, karena harus menyediakan uang untuk istrinya berbelanja. Selain itu, kata “cumi” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti salah satu jenis hewan yang berada di laut. Tetapi di dunia iklan, “cumi” merupakan akronim dari kata cuma mimpi, cuma minjam, dll. “Akronim ini juga sering diucapkan anak saya ketika ngobrol sama orangtuanya, misalnya cukup mahal Mi. Sungguh memprihatinkan memang, bahasa Indonesia sudah tidak baku lagi tetapi malah diplesetkan dengan berbagai makna yang bukan seharusnya,” tambahnya.
Sementara pembicara Edi Setiyanto selaku peneliti Balai Bahasa Yogyakarta menjelaskan, bahwa bahasa iklan merupakan salah satu bentuk hasil kreatif para pengiklan, agar konsumen bisa membeli produknya, biar pun bahasanya sudah menyalahi teks dan konteks. Inilah perkembangan dunia kebahasaan saat ini yang semua serba tidak laras, yaitu mempunyai makna ambigu. Misalnya, seperti judul headline berita “Preman Hajar Massa”, siapa yang dihajar, preman atau massanya? Ternyata setelah membaca berita secara keseluruan, yang dihajar adalah premannya. “Ini selain ambigu juga salah pesan. Penyebabnya adalah keteledoran pelaku media dalam memproduksi kata dan kalimat,” jelasnya.
Hal yang dipaparkan oleh dua pembicara di atas mengundang pertanyaan dari AA Kunto A, tukang sunting dari penerbit Galangpress Jogja. Lontarnya, “Bagaimanakah membakukan bahasa yang tidak baku di zaman yang mengarah ke serba tidak baku saat ini? Dan apakah ada polisi bahasanya?” Selain itu, Suhari salah satu anggota MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Bahasa Indonesia Bantul melanjutkan pertanyaan, bagaimana peran Balai Bahasa dalam menghadapi perubahan ini? “Bagi para guru dituntut kesiapsiagaan dalam menyiasatinya, agar para muridnya tetap berpikir positif. Karena saat di sekolah pun, murid sudah berbahasa iklan, misal klo mau pinter minum tolak angin,” jelasnya.
Kemudian, Edi menjawab pertanyaan tersebut, bahwa Balai Bahasa saat ini bukan menjadi polisi bahasa. Tetapi hanya sebagai pengamat terhadap perubahan kebahasaan, dan kemudian memberikan solusi agar perubahan tersebut bisa tetap di jalannya. Sehingga, ia mengharapkan agar siapa pun yang mengetahui kebenaran tentang kebahasaan bisa menjadi polisi bahasa.. Termasuk para pengajar di sekolah, yang diharapkan bisa menjadi penjaga akan kebakuan bahasa Indonesia.
Ia juga menjelaskan, bahwa saat ini terjadi pergeseran makna, bahasa Indonesia bukan lagi sebagai bahasa identitas, melainkan sebagai bahasa iklan. Balai bahasa di Yogyakarta dan Pusat Bahasa di Jakarta saat ini sedang menyusun Rancangan Undang-Undang tentang Kebahasaan. Semoga bisa menjawab pertanyaan semua peserta yang hadir, dan semoga bisa menjadi pedoman media massa, guru, peneliti atau siapapun yang ingin tetap melestarikan bahasa Indonesia.
Dalam acara ini, juga disosialisasikan rencana pendirian Forum Bahasa Media Massa (FBMM) Cabang Daerah Istimewa Yogyakarta. Forum ini beranggotakan guru, editor, wartawan, dan pemerhati bahasa. Semoga dengan forum ini, bisa semakin detail dalam membahas dan menemukan solusi untuk masalah kebahasaan Indonesia.

MAGIS; Rekoleksi Setahun bagi Kaum Muda

Sudah 3 periode (tahun 2007-2010) Suster-Suster Serikat Sahabat Setia Jesus (Faithful Companions of Jesus / FCJ) Yogyakarta mendampingi kaum muda dalam kegiatan rekoleksi panjang selama setahun. Komunitas MAGIS 10 – generasi ke tiga dimulai bulan Januari 2010 dan akan berakhir Desember 2010. Sebagaimana yang sudah-sudah, komunitas ini mengusung Spiritualitas Ignasian sebagai dasar utamanya. Tulisan ini bermaksud untuk membagikan pengalaman kami berjalan sebagai komunitas MAGIS 10 selama 6 bulan (Januari – Juni).

Sikap Dasar dan Tujuan.

Sikap dasar yang perlu dimiliki oleh setiap anggota adalah komitmen untuk mengikuti kegiatan selama setahun. Komunitas MAGIS mempunyai kurikulum yang kegiatannya tersusun secara sistematis dan terstruktur. Oleh karena itu, jika ada yang tidak mengikuti salah satu pertemuan, biasanya ia akan mengalami kesulitan untuk mengukuti materi pertemuan selanjutnya.

Sebagaimana lazimnya di komunitas lain, di MAGIS pun terjadi seleksi alam. Bagi yang mempunyai komitmen dan keteguhan kuat akan bertahan, sedangkan yang tidak akan mundur teratur. Pada bulan Januari tercatat 32 pendaftar yang lolos seleksi dan kini – enam bulan sesudahnya – tinggal 20 orang yang bertahan.

Mampu mengatur hidup seturut teladan St. Ignasius Loyola, itulah yang hendak dipelajari di komunitas ini. Secara sederhana, mengatur hidup pertama-tama adalah proses mengalahkan diri terus-menerus. Setelah mampu mengatur diri, kami berharap semakin mampu pula untuk peka terhadap lingkungan sekitar, ikut terlibat dalam karya Tuhan di dunia. Harapannya, kami mampu menjadi semakin humanis karena budi dan rasa yang diasah akan menimbulkan rasa empati, simpati dan sosial kapada dunia.

Ada tiga macam pengolahan dalam MAGIS, yaitu pengolahan dalam kelompok besar dan kecil, pengolahan pribadi, dan pengolahan terbimbing. Pengolahan dalam kelompok besar yaitu pengolahan yang dilakukan sekali sebulan (pada minggu kedua) guna mendalami materi. Selain itu, anggota magis juga disebar ke dalam kelompok-kelompok kecil (4 orang per kelompok) untuk sharing pengalaman batin di luar jam pertemuan Kegiatan ini dinamakan magis circle. Ini juga terjadi sekali dalam sebulan. Pengolahan pribadi yaitu latihan rohani (meditasi, examen, menulis jurnal) setiap hari yang waktunya disesuaikan dengan kondisi pribadi. Sementara pengolahan terbimbing yaitu sharing sebulan sekali tentang perkembangan batin kepada pembimbing rohani yang sudah ditunjuk. Pengalaman tersulit dalam latihan ini adalah kesetiaan dan ketekunan.

Pengolahan diri membawa berkah.

Pengolahan dalam kelompok besar dibagi ke dalam berbagai tema yang diberikan sebulan sekali.

Bulan Januari, kami belajar meditasi. Ternyata tidak mudah untuk sekedar duduk diam atentif dan berfokus pada kesadaran. Namun nyatanya latihan yang sederhana ini membuahkan banyak hal positif dalam hidup kami, misalnya menjadi lebih sabar dan mampu mengatur waktu. Latihan disiplin diri dan setia berkanjang dalam aneka rasa yang tidak enak selama meditasi, kami rasakan tidak mudah.

Bulan Pebruari pertemuan berlangsung di Griya Hening – Kalikuning. Temanya adalah community building dan latihan examen. Kami diajak untuk mengenal satu sama lain dan membangun rasa kebersamaan antaranggota agar pilar ke dua –yakni persahabatan- dapat terbangun. Acara ini dipandu oleh kakak angkatan (MAGIS 08 dan 09).

Ada satu kegiatan inti yang membuat kami terkesan, yaitu doa malam. Doa tersebut disebut “Doa Nikodemus” dipandu oleh Fr. Joni SCJ. Seperti Nikodemus yang menemui Yesus pada malam hari – dan bertanya mengenai perkara-perkara hidupnya yang penting, demikian pun kami diajak untuk mengungkapkan semua permasalahan hidup di hadapan Tuhan. Serasa semua perasaan tertumpah, menangis, tertawa, kecewa, marah, yang membuat hati menjadi lega. Kami disatukan secara batin justru karena kami mengetahui dan mengenali permasalahan setiap orang. Kami tidak sendirian. Masing-masing mempunyai permasalahan hidup yang berbeda, dan Tuhan menyatukan kami dalam komunitas ini untuk saling mensyukuri hidup yang sekarang kami jalani. Sungguh indahlah hidup dalam kebersamaan.

Dari Inigo ke Ignasius, adalah tema bulan Maret. Kami mempelajari sekilas sejarah hidup, pertobatan dan keselamatan Ignasius. Inigo yang mulanya adalah seorang bersemangat duniawi berubah menjadi Ignatius yang miskin harta tetapi kaya hati. Untuk menjadi seperti ini, Ignatius mengalami pergulatan hati yang dahsyat - mengalahkan musuh terbesarnya yaitu dirinya sendiri. Inilah yang menjadi bahan refleksi kami. Perubahan itu mungkin. Jika Inigo bisa, tidak ada alasan bahwa kami tidak bisa. Sekurang-kurangnya kami mengetahui bahwa Ignasius pada mulanya adalah manusia biasa yang berdosa sebagaimana orang kebanyakan. Bedanya, ia bersedia berubah dan diubah.

Bulan berikutnya (April), kami mulai membongkar sejarah hidup. Thomas Sembiring (MAGIS 08) datang untuk membagikan pengalamannya dalam mengolah sejarah hidup. Salah satu tujuan MAGIS adalah agar anggota mengenali diri lebih dalam. Untuk itu tidak bisa lain kecuali mengingat kembali sejarah hidup. Menuliskan sejarah hidup dari kanak-kanak hingga dewasa menimbulkan banyak resistensi. Efeknya bahkan sampai terasa ke fisik (mual, muntah, pusing, demam). Kami menghidupkan kembali pengalaman (dan yang sulit adalah pengalaman pahit) – berupaya menerimanya, mengakrabinya dan mensyukurinya. Mengingkari sejarah hidup berarti mengingkari diri-sendiri dan Masa lalu menentukan masa depan merupakan dua kalimat penting dalam pertemuan ini. Sejarah keselamatan kami telusuri sepanjang sejarah kehidupan kami. Itulah saat ketika kami mengenal istilah Finding God in all things (menemukan Allah dalam segala).

Asas & Dasar adalah tema pertemuan bulan Mei. Kami rasakan cukup sulit untuk mengubah paradigma mengenai tujuan dan sarana. Ada yang mengatakan bahwa alam pikirannya bagai diputar balik, maksudnya apa yang selama ini dipahami sebagai tujuan ternyata adalah sarana. Memahami esensi mengapa aku diciptakan membantu pemilihan sarana. Ajakan untuk lepas bebas (menggunakan sarana sejauh membantu dan melepaskannya jika tidak membantu) kami latih dengan membuat daftar sarana yang kami miliki (baik yang bersifat materiil maupun non materiil) dan mencermatinya : membantu atau tidak ? Ajakannya adalah untuk menimbang, memilah dan memilih hanya sarana yang diperlukan. Seorang peserta mulai mengurangi isi kamar yang sifatnya ‘berlebih-lebihan’ (excessive) dan memberikannya kepada orang lain. Ada kelegaan dan kelapangan.

Pertemuan bulan Juni bertema Pembedaan Roh. Manusia dikelilingi oleh dua kekuatan yaitu Roh Baik dan Roh Jahat. Di antara kedua Roh tersebut, tetap manusialah pembuat keputusan akan apa yang akan dia ikuti/lakukan. Tema ini terasa begitu aktual menyentuh kenyataan hidup kami. Terombang-ambing dalam keraguan, ketakutan, kekalutan ketika kami dihadapkan pada pilihan, rupanya karena Roh Jahat. Itu sering kami alami. Ketika Roh Baik bekerja tidaklah selalu terasa manis dan lembut melainkan bisa menghantam dan menyesakkan jiwa. Pembimbing menekankan pentingnya untuk rutin setiap hari melakukan meditasi dan examen agar semakin peka merasakan gerakan roh tersebut. PR Rohani kami bulan ini adalah –dalam examen- mencermati Roh apa yang menggerakkan tindakan dan keputusan harian kami.

Kegiatan-kegiatan di dalam Magis ini sangatlah komplit, butuh kesediaan diri dan waktu untuk benar-benar melakukan semua latihannya. Melihat hasil yang didapat setiap bulannya, sungguhlah bermanfaat. Magis merupakan sarana yang membuka wacana baru terhadap cara mengenal Tuhan. Kegiatan yang berusaha menarik diri dari keramaian untuk sejenak merefleksikan hidup, membantu kami semakin peka untuk menemukan Tuhan dalam segala hal. Kiranya Magis bisa membantu kami - kaum muda- menjadi humanis, pro aktif, serta mempunyai misi dan visi hidup.


Ad Majorem Dei Gloriam

J Lisa Esti Puji Hartanti (MAGIS 10) J

Friday, June 18, 2010

Anyaran


Akhirnya bisa mulai menulis di blog.. Setelah sebelumnya hanya angan-angan di kepala, keinginan semata, dan tidak pernah diwujudkan. Padahal banyak tema yang bisa dituliskan dan dibagikan ke semua blogger dan netter. Yah, itu hanya sebuah masa lalu saja yang tidak sempat dituliskan.

Mulai dari sekarang, aku akan mencoba mensharingkan berbagai pengalaman menarik yang kulalui. Tentu saja, kuharapkan bisa menginspirasi semua pembaca. Bagiku semua pengalaman hidup adalah menarik dan sangat menarik, tidak ada yang buruk. Bahkan aku akan mencoba mengingat semua pengalaman (bagiku) inspiratif yang sudah berlalu. Aku yakin, akan ada gunanya bagi para pembaca.