Senin, 14 Maret 2010, tujuh editor utusan Penerbit Galangpress Group mengadakan workshop menulis di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA, Wirogunan, Yogyakarta. Untuk pertama kalinya, Galangpress menyelenggarakan workshop yang semua pesertanya adalah para warga binaan lapas. “Ini adalah salah satu bentuk kerjasama kemanusiaan galangpress. Kami ingin sekali membuat warga binaan di lapas bisa menulis dan membagikan pengalaman inspiratifnya ke masyarakat luas,” jelas Julius Felicianus, direktur Galangpress ketika membuka workshop.
Workshop ini mengambil tema “Menembus Katak dalam Tempurung”. Maknanya adalah penghuni lapas memang terbelenggu fisiknya, namun pikiran, kreativitas, ide, imajinasi mereka tidak terbelenggu melainkan lepas bebas. “Lewat menulis, para napi bisa menyuarakan kehidupannya secara leluasa. Mereka bisa bercerita bagaimana keseharian di hotel prodeo. Mereka bisa bertutur tentang harapan sehabis masa hukuman dijalani. Mereka bisa bercerita tentang cinta, air mata, dan tawa,” ungkap AA Kunto A, salah satu trainer workshop dari Galangpress, yang juga pencetus tema tersebut.
Kategori tulisan yang akan dituliskan adalah seputar kisah-kisah inspiratif keseharian mereka selama menjalani hidup di lapas. Bagaimana mereka bangkit dari keterpurukan, menemukan Tuhan, mengatasi kegelisahan akan penyesalam masa lalu, dan menjadi seorang pemenang dalam hidup mereka. Sehingga, melalui tulisan ini, mereka diajak untuk mengingat dan mengakrabi masalah yang terjadi pada masa lalu, bukan menjauhinya. Karena setiap masalah mempunyai hikmah yang bisa dipetik untuk menjadi bekal menjalani hidup, baik bagi mereka sendiri yang mengalami maupun orang disekitarnya, bahkan masyarakat luas yang mengetahui kisah mereka.
Workshop yang merupakan bentuk kerjasama dengan pihak Lapas dan Rumah Terampil (koordinator acara) ini mendapat antusias yang sangat besar dari warga binaan. Terbukti dari banyaknya yang ingin mendaftar. Tetapi karena keterbatasan tempat, sehingga yang ikut hanya bisa sekitar 30 orang. Biarpun dibatasi, workshop tetap berjalan sangat kondusif, karena keinginan para peserta untuk belajar menulis sangat besar.
Setelah mengikuti workshop ini, berbekal materi yang sudah didapatkan, mereka diberi waktu sekitar satu bulan untuk menuliskan kisah inspiratif masing-masing, untuk kemudian dikumpul dan diseleksi. Hasil seleksi ini nantinya akan dibukukan oleh penerbit. Sebelum dibukukan, pihak penyeleksi yang tak lain adalah tim editor dari penerbit, terlebih dahulu menentukan juara 1 sampai 4, dan diumumkan ketika hari ulang tahun lapas, 14 Mei. Hasilnya, juara 1 diraih oleh Siantika Umayanti dengan judul “Lebih Dari Pemenang”, juara 2 diraih Dinar dengan judul “Gita Cinta dari Penjara”, juara 3 di raih Paskalis Benyamin dengan judul “Harapan yang Fana”, dan juara 4 diraih Winardi dengan judul “Aku dan Kakakku”.
Akhirnya, tulisan para jawara tersebut dibukukan bersama dengan 17 tulisan dari penghuni lapas lainnya yang lolos seleksi. Buku yang berjudul “Katak Menembus Tempurung; 19 Kisah Inspiratif dari Balik Penjara” dilaunching bertepatan dengan upacara remisi para warga binaan lapas, Senin, 16 agustus 2010 di Lapas Wirogunan Yogyakarta.
Buku tersebut merupakan buku PERTAMA DI INDONESIA yang ditulis oleh para WARGA BINAAN dari dalam tembok Lapas Wirogunan Yogyakarta. Berisi 19 kisah menggetarkan yang menggugah jiwa bagi pembaca. Selain itu, buku tersebut juga dilengkapi dengan kumpulan kata-kata motivasi berdosis tinggi dari warga binaan. Buku bisa diperoleh di toko buku seluruh Indonesia, dan toko online www.galangpress.com.
buku yang sangat inspiratif mbak! saya sudah beli...terus bikin buku bagus Galang! buat mbak Lisa terus menulis ya, keren. ~:-P
ReplyDeletekeren mbak buku lapasnya..menginspirasi sekali. ayo galang terus bikin tulisan hebat, mbak Lisa juga terus upload tulisannya yaa...~:-P
ReplyDelete