Kata perempuan dalam bahasa Sansekerta, berasal dari kata empu yang artinya yang dihormati. Dari arti katanya saja, perempuan sudah berada di posisi yang di atas. Maka sangatlah wajar jika perempuan memiliki kemauan yang besar untuk selalu maju, dan sukses dalam hidupnya, sehingga bisa dihormati oleh orang-orang disekitarnya.
Semangat menjadi lebih dan tidak ingin menjadi orang yang biasa-biasa saja, membawa perempuan kepada era kesetaraan gender. Di Indonesia, perjuangan yang besar untuk mencapai itu dilakukan oleh perempuan-perempuan tangguh jaman dulu seperti Cut Nyak Dien yang mau menikahi Teuku Umar asalkan ia masih tetap bisa berperang melawan penjajah. Dewi Sartika yang menggemparkan daerah Cicalengka karena ia yang pada saat ini berusia 10 tahun, bisa mengajari anak-anak pembantu di kepatihan untuk belajar baca tulis dan bahasa Belanda, kemudan setelah ia menikah, mendirikan Sakola Istri (Sekolah Perempuan) pertama di Hindia Belanda yang kemudian berubah nama menjadi “Sakola Raden Dewi”. Karena perjuangannya ini, Dewi Sartika akhirnya dianugerahi bintang jasa oleh pemerintah Hindia Belanda. Selain 2 wanita tangguh tersebut, Indonesia juga memiliki 1 tokoh wanita yang membawa perempuan Indonesia ke arah kesetaraan, yaitu Raden Ajeng Kartini, anak Bupati Jepara yang tidak ingin hanya duduk diam menikmati kekayaan bapaknya, tetapi ia ingin berbuat lebih dengan membuat sekolah perempuan, sehingga perempuan tidak hanya di rumah saja tetapi bisa pintar dan bisa membuat perubahan untuk dunia.
Sifat ingin maju yang dimiliki oleh pendahulu ini, ternyata semakin berkembang sampai saat ini, terutama di abad digital. Bahkan perempuan sekarang sudah bisa menjadi pelaku dalam dunia digital. Ada fakta menarik, bahwa presentase perempuan pengguna internet di Indonesia mencapai 36%, masih di bawah laki-laki yang mencapai 64%. Tetapi dari data ini, menunjukkan bahwa perempuan sudah ikut andil dalam arus digital. Bahkan perbandingan perempuan pengguna jejaring social seperti facebook terpaut tipis dengan laki-laki yaitu 41:59. Menurut data dari Digital Strategist dari Magnivate Digital Consulting, inilah alasan kenapa perempuan melakukan jejaring sosial di internet:
- Terkoneksi dengan teman/keluarga: 75%
- Hiburan: 57%
- Terhubung dengan orang lain: 52%
- Berbagi opini tentang sesuatu: 32%
- Mendapat informasi: 34%
(Data dari www.kompas.com)
Alasan tersebut menunjukkan keaktifan perempuan dalam komunitas sosial kemasyarakatan sangat tinggi. Jadi perempuan tidak hanya sekedar pasif di rumah, mengerjakan urusan rumah tangga, dan melayani suami bagi yang sudah bersuami. Bahwa perempuan saat ini memiliki kebutuhan eksistensi yang tinggi dan disalurkan dengan berjejaring dengan yang lain, dan dalam komunitas.
Selain internet, dunia digital juga saat ini meluas sampai penggunaan barang-barang elektronik yang canggih seperti handphone, komputer, laptop, Ipad, dll. Barang-barang ini saat ini sudah menjadi alat dalam menunjang pekerjaan setiap orang. Perempuan pun tak ketinggalan, ikut ambil bagian dan aktif dalam menggunakannya. Banyak profesi yang mengandalkan alat canggih tersebut dikendalikan oleh perempuan, seperti salah satunya Anne Ahira seorang marketer online terkenal di Indonesia. Selain itu pekerjaan seperti desain grafis, fotografer, dll juga saat ini dijabat oleh perempuan.
Keaktifan perempuan dalam dunia digital ini, akan membawanya tidak hanyut dalam arus. Sehingga, perempuan tidak dikendalikan oleh teknologi, tetapi perempuanlah yang mengendalikan teknologi. Biarpun sekarang masih ada bahkan banyak perempuan yang sampai saat ini dikendalikan oleh teknologi. Seperti kasus penculikan anak-anak remaja perempuan karena facebook. Tetapi melalui tulisan ini saya mengajak para Kartini Indonesia jaman sekarang untuk selalu aktif dan punya prinsip dalam menjalani hidup di abad digital ini. Sehingga kita sebagai perempuan Indonesia bukan lagi menjadi following (mengikuti) tetapi follower (pengikut/yang diikuti).

0 komentar:
Post a Comment