
Sudah 3 periode (tahun 2007-2010) Suster-Suster Serikat Sahabat Setia Jesus (Faithful Companions of Jesus / FCJ)
Sikap Dasar dan Tujuan.
Sikap dasar yang perlu dimiliki oleh setiap anggota adalah komitmen untuk mengikuti kegiatan selama setahun. Komunitas MAGIS mempunyai kurikulum yang kegiatannya tersusun secara sistematis dan terstruktur. Oleh karena itu, jika ada yang tidak mengikuti salah satu pertemuan, biasanya ia akan mengalami kesulitan untuk mengukuti materi pertemuan selanjutnya.
Sebagaimana lazimnya di komunitas lain, di MAGIS pun terjadi seleksi alam. Bagi yang mempunyai komitmen dan keteguhan kuat akan bertahan, sedangkan yang tidak akan mundur teratur. Pada bulan Januari tercatat 32 pendaftar yang lolos seleksi dan kini – enam bulan sesudahnya – tinggal 20 orang yang bertahan.
Mampu mengatur hidup seturut teladan St. Ignasius Loyola, itulah yang hendak dipelajari di komunitas ini. Secara sederhana, mengatur hidup pertama-tama adalah proses mengalahkan diri terus-menerus. Setelah mampu mengatur diri, kami berharap semakin mampu pula untuk peka terhadap lingkungan sekitar, ikut terlibat dalam karya Tuhan di dunia. Harapannya, kami mampu menjadi semakin humanis karena budi dan rasa yang diasah akan menimbulkan rasa empati, simpati dan sosial kapada dunia.
Ada tiga macam pengolahan dalam MAGIS, yaitu pengolahan dalam kelompok besar dan kecil, pengolahan pribadi, dan pengolahan terbimbing. Pengolahan dalam kelompok besar yaitu pengolahan yang dilakukan sekali sebulan (pada minggu kedua) guna mendalami materi. Selain itu, anggota magis juga disebar ke dalam kelompok-kelompok kecil (4 orang per kelompok) untuk sharing pengalaman batin di luar jam pertemuan Kegiatan ini dinamakan magis circle. Ini juga terjadi sekali dalam sebulan. Pengolahan pribadi yaitu latihan rohani (meditasi, examen, menulis jurnal) setiap hari yang waktunya disesuaikan dengan kondisi pribadi. Sementara pengolahan terbimbing yaitu sharing sebulan sekali tentang perkembangan batin kepada pembimbing rohani yang sudah ditunjuk. Pengalaman tersulit dalam latihan ini adalah kesetiaan dan ketekunan.
Pengolahan diri membawa berkah.
Pengolahan dalam kelompok besar dibagi ke dalam berbagai tema yang diberikan sebulan sekali.
Bulan Januari, kami belajar meditasi. Ternyata tidak mudah untuk sekedar duduk diam atentif dan berfokus pada kesadaran. Namun nyatanya latihan yang sederhana ini membuahkan banyak hal positif dalam hidup kami, misalnya menjadi lebih sabar dan mampu mengatur waktu. Latihan disiplin diri dan setia berkanjang dalam aneka rasa yang tidak enak selama meditasi, kami rasakan tidak mudah.
Bulan Pebruari pertemuan berlangsung di Griya Hening – Kalikuning. Temanya adalah community building dan latihan examen. Kami diajak untuk mengenal satu sama lain dan membangun rasa kebersamaan antaranggota agar pilar ke dua –yakni persahabatan- dapat terbangun. Acara ini dipandu oleh kakak angkatan (MAGIS 08 dan 09).
Dari Inigo ke Ignasius, adalah tema bulan Maret. Kami mempelajari sekilas sejarah hidup, pertobatan dan keselamatan Ignasius. Inigo yang mulanya adalah seorang bersemangat duniawi berubah menjadi Ignatius yang miskin harta tetapi kaya hati. Untuk menjadi seperti ini, Ignatius mengalami pergulatan hati yang dahsyat - mengalahkan musuh terbesarnya yaitu dirinya sendiri. Inilah yang menjadi bahan refleksi kami. Perubahan itu mungkin. Jika Inigo bisa, tidak ada alasan bahwa kami tidak bisa. Sekurang-kurangnya kami mengetahui bahwa Ignasius pada mulanya adalah manusia biasa yang berdosa sebagaimana orang kebanyakan. Bedanya, ia bersedia berubah dan diubah.
Bulan berikutnya (April), kami mulai membongkar sejarah hidup. Thomas Sembiring (MAGIS 08) datang untuk membagikan pengalamannya dalam mengolah sejarah hidup. Salah satu tujuan MAGIS adalah agar anggota mengenali diri lebih dalam. Untuk itu tidak bisa lain kecuali mengingat kembali sejarah hidup. Menuliskan sejarah hidup dari kanak-kanak hingga dewasa menimbulkan banyak resistensi. Efeknya bahkan sampai terasa ke fisik (mual, muntah, pusing, demam). Kami menghidupkan kembali pengalaman (dan yang sulit adalah pengalaman pahit) – berupaya menerimanya, mengakrabinya dan mensyukurinya. Mengingkari sejarah hidup berarti mengingkari diri-sendiri dan Masa lalu menentukan masa depan merupakan dua kalimat penting dalam pertemuan ini. Sejarah keselamatan kami telusuri sepanjang sejarah kehidupan kami. Itulah saat ketika kami mengenal istilah Finding God in all things (menemukan Allah dalam segala).
Asas & Dasar adalah tema pertemuan bulan Mei. Kami rasakan cukup sulit untuk mengubah paradigma mengenai tujuan dan sarana. Ada yang mengatakan bahwa alam pikirannya bagai diputar balik, maksudnya apa yang selama ini dipahami sebagai tujuan ternyata adalah sarana. Memahami esensi mengapa aku diciptakan membantu pemilihan sarana. Ajakan untuk lepas bebas (menggunakan sarana sejauh membantu dan melepaskannya jika tidak membantu) kami latih dengan membuat daftar sarana yang kami miliki (baik yang bersifat materiil maupun non materiil) dan mencermatinya : membantu atau tidak ? Ajakannya adalah untuk menimbang, memilah dan memilih hanya sarana yang diperlukan. Seorang peserta mulai mengurangi isi kamar yang sifatnya ‘berlebih-lebihan’ (excessive) dan memberikannya kepada orang lain. Ada kelegaan dan kelapangan.
Pertemuan bulan Juni bertema Pembedaan Roh. Manusia dikelilingi oleh dua kekuatan yaitu Roh Baik dan Roh Jahat. Di antara kedua Roh tersebut, tetap manusialah pembuat keputusan akan apa yang akan dia ikuti/lakukan. Tema ini terasa begitu aktual menyentuh kenyataan hidup kami. Terombang-ambing dalam keraguan, ketakutan, kekalutan ketika kami dihadapkan pada pilihan, rupanya karena Roh Jahat. Itu sering kami alami. Ketika Roh Baik bekerja tidaklah selalu terasa manis dan lembut melainkan bisa menghantam dan menyesakkan jiwa. Pembimbing menekankan pentingnya untuk rutin setiap hari melakukan meditasi dan examen agar semakin peka merasakan gerakan roh tersebut. PR Rohani kami bulan ini adalah –dalam examen- mencermati Roh apa yang menggerakkan tindakan dan keputusan harian kami.
Kegiatan-kegiatan di dalam Magis ini sangatlah komplit, butuh kesediaan diri dan waktu untuk benar-benar melakukan semua latihannya. Melihat hasil yang didapat setiap bulannya, sungguhlah bermanfaat. Magis merupakan sarana yang membuka wacana baru terhadap cara mengenal Tuhan. Kegiatan yang berusaha menarik diri dari keramaian untuk sejenak merefleksikan hidup, membantu kami semakin peka untuk menemukan Tuhan dalam segala hal. Kiranya Magis bisa membantu kami - kaum muda- menjadi humanis, pro aktif, serta mempunyai misi dan visi hidup.
Ad Majorem Dei Gloriam
0 komentar:
Post a Comment